Senin, 20 Mei 2013

Lalu, sehabis ini apa


"Abis ini apa? aa... Ish. Akunya dicuekin.."

"Eh bentar, yang ini harganya segini, isinya segini.. Yang ini segini tapi segini. Oke, lebih efisien yang ini. Jadi ini aja.."

---


lebih dari 20x percakapan seperti itu berlangsung pada siang itu. Di hari Minggu tidak cerah tidak mendung. Kesibukan kami dimulai dari unit tempat tinggal kami yang baru selesai dirapihkan dan berencana untuk membeli segala kebutuhan tempat tinggal.

Dulu, sewaktu saya masih mengikuti program kepaniteraan di RSUD Kab Bekasi, saya tinggal mengontrak sebuah rumah. Sedikit banyak, pengalaman mengontrak rumah itu membuat saya terbiasa akan berbelanja kebutuhan harian rumah seperti sabun cuci piring, pel dan lain sebagainya. Tapi untuk patjar yang hampir tak pernah tinggal jauh dari rumah (terlebih lagi dia laki-laki) belanja perlengkapan rumah adalah hal baru untuk dirinya.



Barang yang dibawa untuk cicilan pindahan. Hal pertama yang diangkut? Koleksi CD musik dan buku-buku :))


Kebingungan patjar milih pelembab ruangan. Menghitung biaya dan mencari mana yang paling efisien. Tiap rak ya begini bentuknya, jadilah kita menghabiskan waktu 3 jam lebih di Hipermarket hanya untuk beli barang yang biasa dibeli ibu kami setiap 1 bulan sekali.



Hasil belanjaan. Semua ada. Dari tempat sampah, pembersih kamar mandi, selang gas dan semua kebutuhan lainnya. Hah.



Karena fokus pindahan pertama kami adalah buku dan CD, maka kami memutuskan untuk membeli sebuah rak ukuran cukup besar. (oya, buku dan CD semua punya patjar, yang milik saya masih tertata rapih di kamar.) :p



Patjar, lagi "mbangun" rak. :))



Yaay. Raknya udah berdiri. Isinya? CD, buku fiksi dan... buku kedokteran :|

yeaay.



Yeah, people..
Bangun rak aja repot. Gimana mau bangun rumah tangga. :D






....16 hari lagi  menjadi Nyonya Hadinoto



Kamis, 16 Mei 2013

1 Porsi Mie Ayam 1 Teh dan Seorang Teman Lama

Suapan hampir menghabisi setengah mie ayam yang sedang saya nikmati pagi itu. Mie ayam yang menemani saya tumbuh besar dari semenjak masih mengenaka rok merah hingga hari ini jas putih itu tergantung rapi di jok mobil. Sebuah kondisi biasa sebenarnya, hingga tiba saya melihat seorang teman lama. Mengenakan kemeja pas badan digulung sesiku dan celana bahan. Teman yang dahulu masih sama-sama mengenakan seragam sudah tumbuh menjadi sosok pekerja ibukota.


sebut saja, Haris..

Me : "Lagi sibuk apa sekarang?"

Haris : "Kerja aja, ma paling nongkrong ma anak-anak."

Me : "Apa yang udah lo dapatkan dari kerjaan lo?"

Haris : "Gue lagi nyicil KPR."

Me : "Wow. Udah beli rumah... Berani banget lho, masih muda.. Udah ada cewe? Tinggal nikahnya doang sih, rumah udah ada.."

Haris : "Unfortunately, gue gak ada cewe. Gaji gue tiap bulan cuma sisa 1/3nya. Abis buat nyicil rumah. Untuk saat ini yang paling bener ya gak punya cewe. Bayangin kalau gue harus nambah 1 tanggung jawab lagi, bayarin makan, bayarin jalan dll. Sekarang duit gue abis buat pulsa, buat bensin ma buat nongkrong dengan anak-anak; main futsal, minum-minum.. Kalau gue punya cewe gue harus ngorbanin salah satu hal, dan yang paling mungkin adalah gue ngurangin jatah nongkrong dan futsal, dan untuk itu gue ga mau. Karena stress gue ilang ya saat gue lagi ma anak-anak, dengan kondisi gue yang kaya sekarang; punya cewe sedikit banyak cuma nambah kepusingan gue.."






*BOYS*

Senin, 13 Mei 2013

Setidaknya laki-laki telah mencoba..

H-1 bulan menuju Nyonya Hadinoto ternyata lebih berat dari yang saya bayangin. Kata orang, H-1 bulan sih udah tinggal tenang, tinggal tunggu waktunya aja. TERNYATAAA jauh banget dari perkiraan ya kak. :|

Di hari-hari ini saya diribetin sama pengisian tempat tinggal dan pengurusan undangan yang kerap kali bikin kepala sakit. Masalahnya beragam sih, mulai dari deco yang warnanya kurang sesuai hingga mahalnya harga barang peralatan rumah tangga. Semua kami laluin, kami diskusikan dan lemas berasama di Informa dan Carrefour melihat list barang yang harus dibeli.

"Jangan pernah percayakan hal perempuan pada laki-laki" Kalimat ini berbekas tega, mantap dan saya amini dengan sangat. Pria diluar sana itu tidak akan bisa peka dengan keperluan segala bojret-bojret rumah tangga. Yang mereka pikirkan kan cuma apakah barang ini sesuai harga dengan kualitas atau butuh atau ingin.



...Hingga akhirnya saya menyerah. Berbekal segenap keberanian (kalau-kalau hasilnya berantakan), saya minta tolong patjar untuk membantu mengurus "urusan perempuan", yah setidaknya dia mencoba.... :") Berikut recapnya..




1. Kotak seserahan
Dinasihati oleh beberapa orang "Belilah kotak yang bisa dipakai lagi nantinya.." maka pergilah saya ke department store khusus perkakas rumah tangga. Ketika pergi, si patjar ga bisa ikut karena masih harus tugas di rumah sakit. Hanya sedikit memantau ditengah pemilihan lewat chat chat singkat atau sekedar perhatian jangan lupa makan. Pulanglah saya dengan membawa setumpuk kotak. Setelah memeluk dan mencium kening, ia ambil kotak-kotak itu dan dibuka di lantai. Dia buka dari plastiknya, dan mulailah merakit kotak tersebut sembari saya meluruskan kaki dan meminum teh manis dingin. Ah, setidaknya dia mencoba.. :)
Oya, selain ini, kotak "konvensional" seserahan juga setengahnya saya beli di Stasiun Cikini. Lumayan mahal untuk ukuran kotak yang tak bisa terpakai setelahnya, tapi yasudahlah. :"D

(harga kotak seperti yang patjar rakit itu 50.000 untuk 2 kotak. Murah :D dan terpakai setelahnya)


2. Undangan
Dari awal, patjar saya kasih tugas untuk urus undangan. Walau ditengah sempat ada yang missed karena ternyata undangan akad nikah SALAH TANGGAL, akhirnya semua urusan undangan harus saya ambil alih. Entah membayar rasa bersalah, atau karena telah saya minta tolong baik-baik, dengan sukarela (walau muka datar plus ngantuk karena menghitung faedah kalori yang keluar dari kegiatan masukin undangan ke plastik), terduduklah dia bersama si adik Joja dan Papaps Bram. 1/3 pekerjaan kami selesaikan dalam waktu 3 jam. Hmmmmm.
Ya walau setelahnya patjar jadi super cranky, minta pijetin dan minta dielus-elus rambutnya karena kecapean, setidaknya dia sudah mencoba :)




3. ISI TEMPAT TINGGAL
ini paling menyiksa semua energi sih. Semua harus diurus. Dari warna deco, warna dinding, warna warna lainnya. *pingsan*. Hampir 80% saya yang urus dan patjar cuma ngangguk. Mungkin sadar karena waktunya tak dapat terbagi, akhirnya patjar memberikan saya wewenang penuh untuk memilih warna semua hal yang berhubungan dengan tempat tinggal. Dan jelas pilihan saya jatuh ke warna pink sih. :))

Ini gordyn kamar. Pink. Sempat saya menelpon patjar untuk konfirmasi warna, saya bilang ke dia bahwa warna gordyn kamar kami akan "agak" pink dan abu-abu. Setelah lihat aslinya, patjar cuma bisa senyum, nelen ludah sedikit dan merengkuh kepala saya sembari mengecup kening dan berkata "Terima kasih ya udah beliin.." :")
*walau setelahnya dia minta bikinin kopi item tanda kepalanya agak sakit*

Ini waktu patjar "sidak" calon tempat tinggal kami (yang hingga sebelum ia datang, semua hal saya yang urus). Banyak kekurangan dan tidak sreg di hati, si patjar mulai menulis apa-apa saja yang harus diubah, dikuatkan atau dipindahtempatkan. 3 jam dihabiskan dalam ruangan ini mendengarnya menempatkan instruksi mengenai perabotan. Saya? Karena merasa sudah bekerja, sesekali saya mengunyah rempeyek dan menyeruput teh botol dingin yang saya genggam sembari sesekali menimpali maunya dia. Setelahnya? Patjar tidur seharian, kecapean. Yah, setidaknya dia sudah mencoba :)


Sempat menghilang ditengah kerumunan Informa, disaat saya sibuk mencari hal yang harus dibeli untuk kebutuhan rumah. Mata saya mencari, ponsel mencoba menghubungi.. dan ternyata dia terduduk lemas di display unit. :"))))
Yah, setidaknya dia telah mencoba.....


4. Kamu..
"Aa, ini banyak banget deh barang yang harus disiapin. Bukan cuma hal besar, hal kecil juga.. Sampe keset juga kudu dibeli. Ini semua belom deh. Aaaaakkk. Mau kapan? Aaaakkkkkk."

Misuh saya hari itu, stress dengan semua hal yang harus disiapkan. Hampir beberapa hari patjar kena semprot saya (mungkin sedang PMS). Hingga suatu hari, patjar mengirimkan sebuah line chat dengan tulisan.. "Kamu jangan mawah-mawah..." dan mengirimkan gambar...


Sebuah keset bebek. Diposekan dengan Brown. :")) Gimana saya gak langsung berhenti misuh dan ketawa-ketawa sendiri? :"))))


*walau saya harus tetap membeli keset sih karena siapa coba yang tega injek keset seperti itu?*





Yah, tapi..
setidaknya dia telah mencoba.....




PS,
I smurf you, A..
-- kurang dari 25 hari lagi menjadi Nyonya Hadinoto




Senin, 06 Mei 2013

Terima Kasih, Kartini...

21 April 2013. Tepat di hari Kartini, saya ikut merayakannya dengan "kebayaan". Ya walau sebenarnya ini adalah moment pacaran mendekati istri orang sih, yaitu prewedding photo. Konsep foto prewed saya itu sangat sederhana, hanya sebuah konsep foto studio aja. Tapi pakaian yang kami kenakan merupakan pakaian kebesaran orang Indonesia. Baju adat. :))

Sebenernya, foto prewed saya itu kebagi dua. Yang pertama adalah sesi foto resmi atau memakai kebaya dan dilakukan dalam studio, dan yang kedua adalah foto kurang resmi (foto konsep) yang dilakukan diluar studio, disini kami mengenakan pakaian non adat.

Untuk yang nanya, kebaya cantik saya ini buatan siapa dengan bangga aku akan jawab, semua kebaya yang saya kenakan ini adalah buatan tangan perempuan super humble bernama TANTE YUSTINE. Beliau luar biasa hebat dan rendah hati, menyebut dirinya sebagai tukang jahit bukan seorang designer kebaya. (padahal design kebayanya bener-bener bikin mata berkaca lho...)

sayangnya, tante Yustine gak menerima pemesanan kebaya yang non-pengantin, jadi beliau hanya menjahitkan khusus bagi para calon pengantin perempuan. Usaha utama beliau sebenarnya adalah dekorasi ruang (kebetulan, nanti, Inshaa Allah, dekorasi ruang akad dan resepsi saya akan dihandle beliau) beliau juga membuatkan saya kebaya untuk akad nikah tapiii karena Inshaa Allah resepsi saya mengenakan dodotan, jadi saya keukeuh mau foto prewed menggunakan kebaya "megah", karena kebaya resepsi cenderung lebih sederhana(dasar..), dan dikabulkanlah!!!! Bahagianya itu lho.. x)))


Oya, untuk yang butuh alamat Tante Yustine...
Griya Busana Yustine 
Alamat Jl Cipinang Baru I 35-36 RT 001/02
Cipinang, Pulo Gadung Kota Jakarta Kode Pos 13240
Phone 021 4718958. 

Nih deh, sedikit foto-foto waktu prewed dan nikmati keindahan kebaya Tante Yustine :)
Ini kebaya pertama. Perpaduan warnanya aku suka banget. Terangnya ga norak, gelapnya tetap terlihat stunning. Ini kebaya panjang, kurang lebih 1 meter menyapu lantai. Detailnya sangat rapih dan bahannya juga enak dibadan. Gak gatal :))





Ini kebaya kedua. Bustiernya JUARAAAAAAAAA~





Ini kebaya ketiga. Sederhana tapi MEGAHHHH. Liat detail di badan saya deh. Itu detail luar biasa, tapi gak "berat" dan tetap cantik...




Ini kebaya terakhir. Dari penilaianku inilah yang paling simpel tapi tetap cantik.





AAAAKKKK. Terharu nulisnya. x")))
Segitu bahagianya looo aku bisa dapet kesempatan publish post ini. mengatasnamakan wanita Indonesia saya menaruh hormat luar biasa pada kecantikan KEBAYA INDONESIA. :'D



Mengekspresikan XperiaZ

Jadi, untuk ukuran manusia bocah kayak gue, punya gadget canggih itu emang agak sedikit diluar opsi. Kenapa? Pertama, gue gaptek. Kedua, gue udah dari lama adalah penyembah non berhala bernama iPhone jadi agak susah jempol gue ini untuk memakai ponsel merk lain.

Hingga suatu hari, berbekal muka ginjut patjar mbawa-bawa kotak item ke rumah gue yang ternyata isinya..... nyampelah ke tangan gue Sony XperiaZ. Suatu hal yang sama sekali bukan "gue banget"


Oke, pertama gue buka.. Respon gue satu... "Rrr... Bentuknya classy dan seksi...", secara saat itu ponsel dalam keadaan mati. Desainnya solid, bahannya bukan "plastik", beratnya pas, lebarnya masih ga buat orang nyangka kalau ini adalah talenan.

Pas gue nyalain, sedikit berdehem gue bergumam.. "Wow, ini layar jernih abis, Kak!!!!"

Kurang lebih gini penampakannya..


Naluri perempuan gue keluarlah dengan beringas, gue coba foto. AAKKK JERNIH BANGET KAK! Padahal cuma moto pakai kamera depan, lho.. Makin giranglah gue make "baby" gue yang satu ini.... Nih hasil gambar kamera depannya... :3 (abaikan kenapa rambut pacar gue berdiri)


Lalu gue nikmatilah handphone ini, hingga suatu hari (iya gue segaptek itu), patjar menemukan fitur BURST di kamera. Sebenernya sih nemunya  karena iseng, jadi fitur ini bisa capture gambar sedetail dan sebanyak mungkin dalam itungan detik. Gila banget. Hahahahhahah. Gue semakin girang, dan jadilah si patjar dan adeknya gue jadiin kelinci percobaan. Gue suruh lelompatan :)))


Nah, buat yang doyan foto-foto emang XperiaZ megang banget sih kameranya. Bahkan dalam keadaan low light sekalipun hasil gambarnya masih ajib jernihnya. Ini hasil low light, padahal lampu kamar gue matiin...


dan ini hasil jepretan kalau di handphonenya.... See? Sejernih aslinya kan... Bukan tipuan brightness..



Terakhir deh, tiba-tiba Papaps pulang bawa handphone baru. Karena jiwa kompetisi aku tinggi, akhirnya aku isenglah bandingin brightness dan ternyata hasilnyaaaaaaaaaaaaaaa~~~~


Dan kemudian, Papaps beliin Momi Sony XperiaZ warna putih. :p





Sekian review suka-suka gue,
Semoga manfaat, :3

Kamis, 02 Mei 2013

Apa yang bisa dilakukan waktu?

"Jadi? Jadi? Apapunlah yaaa...."*cheers*

Bulan November 2012. Pada sebuah malam di lokasi yang bukan hanya terletak di Jawa Barat melainkan juga di hati, Kota Bandung..... Pada sebuah meja bersegi empat, kami duduk berkeliling. Menara minuman berdiri kokoh, gelas-gelas mulai terisi penuh; dan kemudian habis seiring selesainya cerita kami. Mungkin ini sedikit yang bisa saya simpulkan selaku pendengar yang baik malam itu.. Ya, malam itu bukan saya tokoh utamanya, melainkan seorang sahabat yang sedang menginjakkan kakinya ke pulau Jawa; jauh-jauh dari Bali.

(semua nama disini akan saya samarkan..)


Adrian, usia mapan siap menikah, sudah menjomblo lebih dari umur balita, pekerjaan tetap.
"Kamu mau minum apa? Sini aku ambilin yuk.. Yuk... Kamu capek? Mau istirahat?" Kalimat menggoda perempuan khas anak Bandung, walau saya sendiri tau dengan pasti yang diutarakannya hanya untuk mencairkan suasana tanpa bermaksud benar-benar menjajaki hati. Perempuan yang digodapun hanya tertawa, tanpa menganggap serius apapun.


Canina, dokter gigi, mulai apatis dengan keberadaan cinta
"mungkin gue terlalu pemilih.."


Melody, interior designer, meneguk minuman ditemani perih yang belum hilang akibat kandasnya cerita yang sempat dibangun.
"Yaudalah, ikhlasin aja. Emang bukan jodohnya, padahal cocok banget sih."


Kadek, belajar move on akibat sakitnya dikhianati dan tidak dianggap utuh.
"Jalanin aja.. walau belom tau mau dibawa kemana. Lagi pengen seneng-seneng aja."


Yoga, pejuang LDR.
"Sinyal Tel****** anjislah."


Darius, programmer. Pacaran 6 tahun.
"Teuing, ntarlah mikir nikahnya. Serius sih, cuma untuk masalah itu ada waktunya."


 Fauzi, pemimpi bersuara emas.
"Mual ngomongin cinta."


Hari ini, semua cerita sudah terbalik, pada pertemuan kembali walau bukan di tempat yang sama tapi satu benang merah yang bisa ditarik adalah....
Selalu ada yang waktu jawab..



Adrian. Hari ini.
"Mana maneh? Mau aing kenalin ka bidadari aing.." Ah, sudah memiliki wanita yang ia sebut dengan hormatnya sebagai bidadari, setelah lelah mencoba membukakan hati orang lain.

Canina. Hari ini.
"Belom pesen gedung.....!" Akan menikah, dengan proses yang sangat cepat. Berkenalan, yakin, dilamar dan sedang mengurus semua keperluan pernikahan.

Melody. Hari ini.
"Aku ibu-ibu amatir banget, ikan bakarnya lengket!" Belajar menjadi istri yang baik. Ya, ia juga akan segera menikah dan senyum tak kunjung lepas dari bibir mungilnya

Kadek. Hari ini.
"....there she goes.... there she goes again..." Alunan nyanyian mengantarkan sang kekasih ke tanah kelahirannya. Cinta mulai merekah kembali. Berhamburan keluar dengan wanginya yang khas. Ketulusan dan kesucian mulai kembali menemani. Kesetiaan mulai kembali diuji.

Yoga. Hari ini.
"....Bismillah." Memutuskan untuk mengakhiri kegelisahan LDR, memutuskan sendiri dan kembali memutuskan LDR ke lokasi yang....... lebih jauh. :))

Darius. Hari ini.
"Bulan depan!" Menikah? mungkin. Tapi saya peringatkan bahwa omongannya tidak bisa dianggap sekedar candaan.

Fauzi. Hari ini.
"..Doain atuh" Cinta mulai menyapa kembali. Senyum mulai tersungging dan harapan kembali terbangun.




Sebegitu hebatnya waktu, sehebat itulah Tuhan membolak-balikkan perasaan manusia. Hari itu kami berkumpul untuk merayakan pedihnya ditinggal cinta, 6 bulan kemudian kami kembali berkumpul untuk bersulang atas kebahagiaan yang telah sama-sama diraih.



Hebatnya waktu.

Jumat, 19 April 2013

Romantis Itu Perkara Cara Bukan Aturan

Dulu banget, oke sekitar 2-3 tahun lalu, gue lupa pastinya.. temen deket gue Aprilia Novita Sari twitpic sebuah foto. Dimana foto tersebut adalah sebuah kiriman tanpa permintaan (alias surprise) berupa sebuah kotak yang dihias pita merah jambu cantik dan berisi bunga mawar utuh juga kelopak-kelopaknya yang sengaja dirontokkan dari batangnya.. Kebetulan saat itu, pacarnya, Reza (yang sekarang sudah menjadi tunangannya) masih menjalani masa koas di Surabaya.

dan beberapa surprise what-so-called romantis yang bertubi-tubi datang. Bahagia banget melihat mereka berdua rasanya. Novi sering banget mengungkapkan bahagianya diperlakukan seperti putri raja dari Reza. Guepun ikut seneng ngeliat dia seneng.

Terus gue nanya dalam diri, "Kok gue ga ada yang pernah kasih bunga?", lalu gue biarkan saja pemikiran itu tetap menjadi pemikiran, karena gue yakin laki-laki memiliki bahasa sendiri-sendiri dalam mengungkapkan cinta.


Pemikiran tersebut kemudian menjadi kenyataan, disaat gue sempet deket dengan beberapa jenis orang kurang lebih setahun lalu. Ada yang nyoba ngasih gue puisi, ada yang nyoba nyanyiin, ada yang nyoba macem-macemlah. Dari hal cheesy sampai yang seharusnya sih orang mikir "Ah so sweeeeeettt...." cuma gue menghindari cerita banyak tentang hal ini, lupakanlah.. :)) Intinya beberapa kali gue mendapatkan perlakuan yang sempet gue bilang, stereotipe romantis yang dipikirkan banyak perempuan. Sebut aja bunga, sebut aja puisi, sebut aja candlelight dinner.

Oke hal tersebut bikin gue senyum, tapi yaudah berakhir gitu aja. Let me repeat it, gitu aja.


Kemudian gue mencoba untuk mengenal diri gue lebih lagi, ternyata memang romantis itu adalah mengenai "pandangan" bukan tentang "aturan saklek", ada yang menganggap pemberian bunga sudah luar biasa manis, ada yang menerimanya dengan biasa saja. Ternyata pandangan gue tentang romantis itu agak geser dengan stereotype kebanyakan.


Waktu awal banget jadian (itungan kurang dari seminggu), si patjar dateng kerumah bawa ini..

Usut punya usut, coklat ini dia ambil di kulkas seenaknya karena dirumah stoknya banyak karena saat itu Papaps baru pulang dinas dari Jepang. Cuma lucu ya, cuma coklat biasa sih, tapi sampe gue foto dan gue simpen fotonya ampe sekarang dan coklat ini sanggup bikin hari gue riang seriang-riangnya. Ngebayangin setidaknya dia mengingat gue saat ngambil coklat itu, atau lebihnya, dia ingin gue mencicipi juga coklat yang dilidahnya enak banget, karena dia ada bilang "coba yang kecil deh, itu enak banget.."
Akhirnya gue sadar, ternyata romantis; selain berbicara tentang "cara" juga berbicara tentang kemauan pribadi. 

Ini iseng aja gue kasihin buat dia. Ga dalam rangka apa-apa. Sumringahnya? Ngalahin apapun. :))


Gue, dan gue yakin ada ribuan perempuan diluar sana yang berpikiran sejalan, adalah perempuan yang (ternyata) kalau dikasih bunga bisa senyum tapi dikasih coklat sampe ketawa. Dikasih puisi bilang "makasih" tapi dibawain teh botol dan roti saat dijemput post jaga 24 jam rumah sakit bisa terharu dan meluk.

Poin romantis itu adalah "mengingat", yaitu saat pasangan sedang mengingat kita saat mempersiapkan hal yang akan diberikan pada kita . Entah ia ingin kita senang, ataupun ingin kita tidak kelaparan. Romantis juga merupakan sebuah bahasa dan penyampaian, mengenai penunjukan rasa sayang. Ada yang dengan bunga, atau dengan mencium kening ketika berpisah....


Yah, semua orang punya standar romantis sendiri-sendiri. Si melankolis dengan hal manis. Dan mungkin sisanya dengan hal lucu dan kecil. Gue kebetulan termasuk yang kedua.


Rrrgh, want to make me happy? Red velvet Union looks good. :)





"Hati-hati.." - Him. Then one short kiss at my forehead. In main lobby Cipto Mangunkusumo Kencana Hospital :) 

Kamis, 18 April 2013

...karena ada yang tetap tertinggal

Pernah gak kamu bertemu seseorang sekali saja, sempat berkenalan, tetapi wajah dan sosoknya terus terngiang dan tak bisa hilang?

Saya memiliki cerita yang cukup menarik tentang hal ini, mungkin bisa sedikit disimak...




Sekitar tahun 2001, ada laki-laki berkenalan dengan seorang perempuan pada sebuah pelatihan di kawasan Cibubur. Ya hanya itu saja perkenalannya. Tetapi menurut pengakuan laki-laki tersebut, sosok perempuan tersebut tidak pernah hilang dari ingatannya...

Yang dirasa bukanlah ketertarikan fisik ataupun naksir-naksir anak SMP, tidak sama sekali, tapi laki-laki itu selalu mengingat jelas sosok perempuan itu. Kurus, putih dan berbehel. Begitu kata laki-laki itu menceritakan sosok perempuan itu pada saya.

Bayangan akan perempuan itu tak pernah pergi, laki-laki tersebut masih terus ingat, bahkan hingga waktu berlalu 10 tahun lebih dan telah banyak cerita yang dialami laki-laki tersebut, dan laki-laki tersebut tidak pernah mengetahui dimana anak perempuan yang sempat berkenalan dengannya ketika dirinya memasuki masa puber.


Hingga suatu hari...


Laki-laki tersebut tengah menikmati secangkir kopi pada sebuah kedai kopi kecil, tak peduli dengan sekeliling dan memilih untuk menikmati kopi hitam dan membaca koran yang dipegangnya. Hingga tiba-tiba laki-laki itu melihat sesosok perempuan yang juga datang ke kedai kopi tersebut. Memesan 1 botol Aqua dan roti berselai coklat.


Dihampirinya perempuan tersebut dan memberanikan diri untuk bertanya..
"Kita pernah ketemu gak sebelumnya?"
Perempuan tersebut terheran-heran.
"Kamu pernah ikut pelatihan di Cibubur ga dulu waktu SMP?"
Dengan heran si perempuan mengangguk, mencoba mengingat dengan keras siapa sosok laki-laki yang mengaku mengenal dirinya.
Si laki-laki terus menjelaskan dirinya, dimana tempat pertama berkenalan dan ciri fisik si laki-laki tersebut sewaktu itu.
Si perempuan terus mengingat... gagal.
dan berkatalah laki-laki tersebut pada perempuan itu....
"Kamu.. ga berubah dari sejak SMP...."


..


Beberapa lama setelah pertemuan itu mereka memutuskan untuk pacaran,
dan akan menikah tahun ini.
:)
Semesta keren.





..




Oya, kurang lebih sosok perempuan itu seperti ini....

Jangan Takut Sama Badut

Waktu #BrodinotoTourDeJava, salah satu tempat yang kita kunjungi adalah Candi Arjuna di Dieng. Pagi itu aku dengan semangat menuju sana. Seketika pandanganku justru tertarik pada 3 badut Teletubbies yang sedang duduk di gundukan tanaman. Ku hampiri mereka dengan sumringah dan menyerahkan kamera ke Ajuno dan meminta difotokan dengan posisi memeluk mereka.



Lantas, ajuno bertanya
"why you were hugging them?"
Dan aku lalu menjawab
"Cause I know they need my hug. I just know they need my hug. Seriously, they need my hug, they need our hug..."

*lalu kemudian #Brodinoto berfoto bersama*



Badut.
Fungsinya adalah penghibur anak-anak kecil. Membuat disekelilingnya bahagia karena tingkah pola lucu mereka, menyunggingkan senyum dan mengukir tawa. Binar anak-anak yang tertawa terbahak, atau mungkin ada yang menangis karena trauma.

Waktu kecil, aku juga termasuk salah satu dari anak kecil yang lumayan takut dengan badut. Tapi orang tuaku mengajarkanku untuk tidak mengganggu mereka, jadi tidak pernah sekalipun aku mendorong atau berkata kasar pada mereka. paling hanya lari jika didekati.

Beranjak sedikit besar, sekitar kelas 4 atau 5 SD, pernah ku terduduk dan seketika berpikir..
"Badut kan kerjanya menghibur kita, lalu kalau badut sedih siapa yang hibur?" Sejak saat itu aku mulai memberanikan diri untuk menyapa badut. Minimal tidak berlari ketika ada sesosok badut yang tidak jauh dari pandangan...

Beranjak semakin dewasa, semakin aku menyadari bahwa badut layak mendapat tempat luar biasa pada strata pekerjaan, dibalik usahanya menghibur anak-anak ataupun hanya sekedar dijadikan "hiasan", kita tidak pernah tau apa yang sedang disimpannya...

karena aku tau, deep down inside, mereka gak mau jadi badut..


Banyak mungkin diantara kita yang tidak menghargai keberadaan badut. Diledek, didorong, ditendang atau diejek. Tapi badut selalu bergoyang, selalu ceria. Tapi kita tidak pernah merasakan kan pengapnya berada dalam baju badut atau mungkin si badut lagi sedih.

Kalau ketemu badut, sempatkan untuk peluk mereka, kita gak akan pernah tau pelukan itu mungkin sangat berarti untuk si badut. Badut butuh dikuatkan, badut butuh dipeluk. Karena mungkin badut lagi sedih. Badut lagi nangis.

Kalau ketemu badut, jangan didorong. Badut ga salah apa-apa. Badut cuma lagi jalanin tugas...

Kalau ketemu badut, kalau ga mau peluk karena saking takutnya, minimal lambaikan tangan dan senyumlah selebar dan setulus mungkin,
karena badut butuh tau, kalau kita berterimakasih atas kehadirannya....



Jangan takut sama badut :(
Badut itu baik...
Badut cuma pengen menghibur kita, membuat kita senyum tanpa pernah kita benar-benar peduli apa yang sedang dirasakan badut.
Inget aja, deep down inside mereka ga ingin jadi badut.



Jangan takut sama badut :(
Karena didalamnya ada manusia biasa yang sedang mencari makan dengan cara yang tidak seberuntung kita...



Senin, 15 April 2013

No One Will Ever Love Me

I thought..

No one will ever love me.. I mean, love me that much, like guy out there loves his woman with good hair, sophisticated style or simply perfect eyeliner.

No one will ever love me,
cewe manja gembil yang doyan makan, sedikit-sedikit lapar.. Bad mood saat lapar, tapi ngantukan plus mager saat kenyang..


No one will ever love me,
cewe yang lebih milih makai baju senyaman jidatnya. Bukan flatshoes berpita cantik atau heels yang membuat kaki jenjang. Bukan blouse menarik, bukan pula dress mahal.

No one will ever love me,
cewe yang rambutnya ga bisa dielus-elus. Kalimat yang biasa di tweet seperti "Cewe yg lagi iket rambut, atau rambutnya dicepol itu.. seksi" tidak mungkin didapatkan dalam diriku..
No one will ever love me,
yang ga peduli sama trend terkini. Yang cuek aja memakai apapun asal dia nyaman.
No one will ever love me,
yang masih pake tas ransel hingga umurnya menginjak 23 ketika bertugas.


No one will ever love me..


---
Terlalu judgmental rasanya aku,
karena sebetulnya Tuhan itu maha maha baik dan pengertian. Karena dibalik personality setiap umatnya, Tuhan menciptakan satu lagi manusia yang kurang lebih sama seperti dirinya. Jika memang Tuhan tidak menciptakan yang "sama", Tuhan itu menciptakan seseorang yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan dirimu secara baik dan sempurna.

Sebut saja, jodoh...
Atau soulmate
Atau Partner..


Bersyukur hingga binar mata susah disembunyikan, karena ternyata benar, Tuhan memang menciptakan seorang manusia yang sama absurdnya, sama anehnya dan sama ga beresnya. :"))) Coba bersabar sejenak, suatu hari ia akan datang, seseorang yang bisa menerima semua kekuranganmu tapi secara ajaib kamu dengan sukarela memperbaiki kekuranganmu untuk membuatnya tetap bertahan. Seseorang yang membuatmu berubah ke arah yang lebih baik, tanpa terpaksa tanpa dipaksa..

Percayalah,
seseorang akan datang, seseorang yang akan membuatmu tanpa perasaan berat dan secara tidak sadar mulai mengganti koleksi Converse Chuck Taylor buluk dengan deretan sepatu cantik khas perempuan seusiamu. Mulai tertarik pada baju-baju model kekinian, mulai mencoba memoleskan kosmetik ke daerah wajah, mulai melirik tas kulit yang modelnya masih sesuai karakter dan kepribadianmu..



Seseorang akan datang, seseorang yang akan membuatmu merasa "diterima" dan "dimengerti" secara utuh. Seseorang yang mampu membangkitkan sisi lain dirimu, sisi yang selama ini dormant, sisi yang selama ini tidak pernah tersentuh. Ya, sisi feminine dan naluri kewanitaan yang maksimal..



Seseorang akan datang, seseorang yang tidak mempermasalahkan warna kulitmu, panjang alismu atau model rambutmu. Seseorang yang melihat kekuranganmu sebagai hal yang tidak perlu dikhawatirkan, seseorang yang melihatmu "hebat".

dan tentu saja,
seseorang yang bisa membuatmu berubah, tanpa sedikitpun ada keterpaksaan didalamnya. :)

---


Well,
kalau untuk berubah dia harus setengah mati disuruh olehmu,
dia bukan untukmu :)


Karena sungguh,
berubah itu datangnya dari dalam diri,
berubah, ke arah lebih baik tanpa kehilangan siapa diri kamu sesungguhnya. :'D

...tentang "yang dikira orang" mengalah

Memutuskan untuk menunda sekolah bagi seorang seperti saya bukanlah hal yang kecil. Mungkin sedikit seorang seperti saya, perempuan yang sudah merancang masa depannya mau jadi apa sejak sangat kecil. Cita-cita menjadi dokter memanglah cita-cita saya sejak dulu, bahkan saat badan saya masih muat berada dalam trolley supermarket.

Terbiasa akan membuat rencana, saya kemudian mengatur hidup saya serapih mungkin. Mau sekolah dimana, kuliah dimana dan apa rencana setelah kuliah, semua sudah diatur secara baik. Ini sedikit kesimpulannya..


Sumpah dokter -- internship -- lanjut sekolah spesialis di Sanglah, Bali.

Se-straight itu, dan masih saya yakini hingga masa kepaniteraan (koas) saya sudah setengah berjalan. Tidak ada negosiasi, tidak ada apapun. Kalaupun saya memutuskan untuk berkeluarga di tengah proses tersebut, ya saya sih mikirnya suami saya ikut saya ke Bali atau ya belum menikah dulu hingga tengah masa pendidikan spesialis, atau sekitar umur saya 27 atau 28.


...walau sejujurnya, saya -- bisa dibilang -- sama sekali tidak memperhitungkan berkeluarga di tengah rentang rencana itu.


..ya karena saat itu, saya tidak pernah berpikiran akan menghabiskan sisa hidup dengan sesama dokter sih, *oke sesi curhat ini harus segera diselesaikan*


---


Kemudian laki-laki "brengsek" itu datang, laki-laki yang bisa membuat rencana berantakan seberantakan-berantakannya. Semua planning yang sudah saya susun, hancur begitu saja. Porak-poranda jauh diluar ekspektasi saya.

Laki-laki brengsek yang sanggup membuat saya berkata "ya" untuk memotong rencana saya, mengisi dengan yang lain dan memundurkan hal besar ke masa yang cukup jauh dari perkiraan.

Laki-laki brengsek yang.... anjislah, ternyata sanggup membuat saya menurunkan ego saya untuk mengikuti batas "kewajaran" sebagai perempuan.

Laki-laki yang... hebat.


---


Perlahan tapi pasti, mimpi untuk melanjutkan sekolah di Sanglah praktis saya kubur, berganti menjadi rencana lain dengan tempat sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggal saya kelak. (syukur kalau ternyata ada takdir untuk sekolah di Bali). Pun, perlahan tapi pasti, rencana melanjutkan sekolah sesegera mungkin juga sudah hilang menjadi abu dan tertiup angin, berganti menjadi tugas yang lebih mulia dari seorang residen.. menjadi istri yang baik.. menunggu dengan kopi atau teh panas, menunggunya lulus untuk kemudian bersiap bagi saya bergantian kembali ke sekolah.


Masih tersisa kurang lebih 4-5 tahun dari sekarang untukku mengambil program spesialis. :)


---


Laki-laki brengsek.
:)

Adakah Yang Akan Berubah?

"Thank you for today.."
"My pleasure, Nona.. Goodnight.."

Lalu ada pelukan hangat, panjang, diselingi kecup lembut pun basah.

*lalu lampu mendadak menyala.*
kemudian kami bertingkah seolah tidak ada apa-apa.. Kaget dan salah tingkah.
Setelah menyadari bahwa yang menyalakan lampu adalah asisten rumah tanggaku yang terbangun dan ingin mengecek kunci garasi, kemudian kami berdua tertawa..

Melanjutkan pelukan tersebut..
..... dengan mata was-was.


-------------


Siapa yang tidak pernah merasakan moment seperti tergambar di atas? Diam-diam mengecup bibir, diam-diam berpelukan saat rumah sepi dan mendadak menjauh ketika ada suara pintu terbuka atau derap langkah kaki.

Lalu kemudian aku terdiam dan berpikir, ketika kamar menjadi tempat yang tak lagi taboo bagi sepasang kekasih dan tempat tidur bukan lagi tempat yang dijauhi, akankah rasanya sama seperti dulu? Seperti saat tanganmu mengelilingi punggung dan pundakku di dalam mobil, mencuri suasana karena rindu..

Akankah rasanya sama? Ketika piring sushi yang biasa kita lahap depan mata adalah hasil perhitungan jeli mengenai "Makan apa kita selanjutnya kalau malam ini uang dihabiskan untuk makan sushi?", bukan karena sushi tersebut adalah 'traktiran' kamu di hari kencan kita..

Akankah rasanya sama? Ketika dress cantik yang kamu beli sebagai hadiah untukku adalah hasil pertimbangan panjang dan pembagian uang pangan pengisi kulkas dan tagihan listrik, bukan sekedar sisa gaji seperti dulu; saat dimana tiba waktunya makan adalah tiba pula pesan singkat berisi "Mas, makan dirumah gak? Kalau nggak, Momi gak masak.."

Akankah rasanya sama? Ketika setiap malam kita sudah bisa berbagi tempat tidur dan aku bisa memelukmu kapan saja seperti ketika aku memelukmu erat namun singkat ketika orang sibuk dengan pekerjaannya dan tidak melihat ke arah kita, yaa., seperti saat kita masih pacaran..

Akankah rasanya sama?

------



Rasanya itu semua tidak akan sama. Karena ketika berbicara mengenai hidup, kita tak luput berbicara tentang perubahan dan penggantian tingkat kebahagiaan.

Selalu akan ada yang berubah..

Ketika sudah tidak ada lagi muka bete karena kencan yang dirasa belum puas tetapi mobilmu sudah sampai di depan rumahku.. Ya, karena kita kan pulang ke rumah yang sama..

Ketika sudah tidak ada lagi pergulatan dengan berat badan sendiri saat memakai dress pas badan dengan ritsleting di belakang karena kamu sudah bisa melihat punggungku tanpa benang. Ya karena kita berada pada kamar yang sama..

Ketika sudah tidak ada lagi rasa canggung melihat adegan intim pada sebuah film karena kamar kita kelak; walau kecil, sudah bisa menjadi tempat melampiaskan semua angan dan mungkin saja menjadi saksi "si kecil" yang akan lahir; nanti..

Ketika sudah tidak ada lagi pertengkaran mengenai kabar yang terlambat datang, walau mungkin nantinya kita akan bertengkar mengenai kamu atau aku yang pulang terlambat karena pekerjaan yang masih menumpuk.


...


Ketika kita harus berbagi rak sepatu, ketika aku sudah merencanakan memisahkan sepatu futsal dan bolamu di rak paling bawah dan sepatu hak tinggiku di rak sisanya. Ketika kamar mandi didominasi harum favoritku dan ketika dinding kamar merupakan hasil pilihan warna favoritku. Aku tau, hidup akan semakin berat, karena bukan lagi masalah jadual tayang bioskop yang akan kita ributkan, tapi tentang jadual mencuci pakaian di laundry. Hidup akan semakin rumit, tentang cicilan rumah, tentang biaya sekolah dan tentang pembagian waktu.

Hidup akan tak lagi sama,
tapi aku percaya,
sejauh kamu sudah halal untuk di sisi,
semua kerumitan akan menjadi lebih berarti.





Bismillah. :)

Minggu, 14 April 2013

Bebek dan Ribetnya Perawatan Muka

Ngurus kawinan itu selain ribet dan makan tenaga, ternyata juga menyebabkan timbulnya jerawat-jerawat baru. Sebelumnya, si Chacha hampir mewek karena pas lagi ngurus kawinan, jidat doi juga penuh jerawat. Gue waktu saat itu, nanggepin kalem-kalem aja... ampe tiba waktunya gue yang jerawatan. Shyt Men... Dem...


Waktu itu gak ngerti kenapa, ntah kebanyakan pikiran atau kebanyakan kegiatan, tiba-tiba muka gue diinvasi jerawat. Stress. Iya. Karena sebelumnya kulit gue itu gak pernah seberjerawat dan didominasi flek coklat kaya hari itu.

Tiba-tiba gue ngaca dan gue hampir tereak nyadarin kalau pipi dan jidat gue isinya FLEK COKLAT SEMUA. Ugh. Ditambah keluarga dan seluruh keluarga juga nanya ke gue ada apa dengan muka gue yang mendadak makin ga enak dilihat. Shytlah pokoknya.

Setelah mempertimbangkan sana sini, akhirnya gue mutusin untuk melakukan perawatan muka di RSCM Kencana. Mengingat itu tempat kerjanya pacar, dan deket dari tempat gue beraktivitas, RS Ridwan Meuraksa, terpilihnya RSCM Kencana sebagai tempat gue berkeluh kesah masalah kulit muka, sekaligus persiapan married. Oya, Nama dokter gue itu, dr. Irma Bernadette, Sp.KK (k).

Pertemuan pertama, gue cuma dikasih obat cuci muka, krim siang dan krim malam. Ya, hanya itu. Mohon maaf karena gue ga bisa sebutin racikan obatnya (yang kebetulan gue mengerti betul isinya karena gue cukup mendalami ilmu kulit, khususnya sub bagian estetik). 2 minggu lagi gue disuruh kontrol untuk chemical peeling pertama.

Awalnya emang ga keliatan hasilnya, ditambah muka perihnya SHYTT MEENNNNNNN... mengelupas pula. Sempet demotivasi gue selama 1 hari saking perihnya. Perih banget itu di hari ke 7 pemakaian obat dari dr. Irma Bernadette. Lama-lama kulit gue menyesuaikan kok dan sekarang sih udah ga (terlalu) perih.

seminggu... *liat kaca* masih hopeless..
2 minggu... chemical peeling, masih hopeless..
Minggu ketiga... *liat kaca* Eh udah mulai berkurang.. walau masih mengelupas..

ini foto pas awal perawatan, flek coklat yang bikin gue ngelakuin perawatan rutin. Foto kanan itu hasil setelah minggu ketiga deh.. Post peeling pertama. Udah enak kan? hehehe.

Sebulan.....  chemical peeling lagi... *udah senyum senyum*

...

Hari ini, kurang lebih perawatan gue yang ke 2,5 bulan, so far sih yang gue rasain puas ya. Muka ga kaya kepiting rebus (sempet sih sehari kaya kepiting rebus), flek coklat udah hampir ilang semua dan kulit juga ga kelewat berminyak.

Ini muka gue hari ini. Sebelom nulis post ini. Lumayanlah yaa.... di h-1,5 bulan. :))

ini di pipi yang sama. Ok, no flek hitam. So far keadaan ini menenangkan.

Muka bangun tidur terus tiba-tiba pengen ngepost blog. 


Ya namanya perawatan muka ya.. Pasti banyak syaratnya. Tapi standar sih. Gak boleh kena matahari langsung, ga boleh pakai makeup (oke ini lumayan nyiksa, karena pada periode perawatan gue banyak bener yang nikah termasuk si Chacha.), cuci muka yang rajin dan pakai krim malam ga boleh tinggal. Jadual kontrol untuk chemical peeling juga patuhi aja. Yaaaa, yang penting niat. Haaa.


Selamat mencoba. :)




Rabu, 10 April 2013

Sesingkat Lantai 9 Menuju Lantai Dasar

Sesingkat pembicaraan tidak sengaja dengan seorang yang cukup bermakna yang tidak pula direncanakan pertemuannya. Pada perjalanan dalam lift dari lantai 9 menuju lantai dasar.


Him : "Ngapain lo, ambil ijazah?"
Me : "Ngurus internship."
Him : "Internship dapet dimana? Keluar kota dong? Jauh dong ma keluarga baru nanti?"
Me : "Dimanapun lah. Pengennya sih deket-deket aja."
Him : "Kenapa? Disuruh 'dia' stay di Jakarta aja?"

...

Him : "woy?"
Me : "Ngga juga.. Emang kalau disuruh stay di Jakarta kenapa?"
Him : "Ya bagus. Karena cara melindungi perempuan itu dengan mengawal dan menjaga raganya dari dekat tapi membebaskan pikirannya terbang sejauh mungkin. Untuk laki-laki sebaliknya, bebaskan raganya, tapi jaga pikirannya....."

..

Me : ...

Senin, 08 April 2013

Bebek dan Biaya KUA 30.000 Rupiah

"Neng, Ikut Abang ke KUA yuk, Neng..."

Siapa yang sering denger punchline diatas? Atau mungkin baca di twitter mengenai jokes atau ajakan garing ke KUA. Nah, gue mau cerita pengalaman gue ke KUA untuk urus-urus perlengkapan #BebekManten2013

Banyak beredar di masyarakat bahwa Departemen dimana KUA bernaung adalah salah satu department paling korup di jagat raya Indonesia ini. Beberapa bulan lalu, di Bakoel Koffie Cikini, duduklah gue, Ajuno dan Anissa Nadzirani Thaib (Chacha). Ditemani 1 gelas teh stroberi yang diminum berdua (karena Chacha lagi diet menuju pernikahan) dan 1 gelas kopi item yang paitnya amit-amit punya Ajuno ngobrollah kita mengenai Chacha yang abis ke KUA.

"Ampun deh Bek, ampe nyokap gue keluarin amplop putih dikibas-kibas dikit baru deh tuh berenti ngomong.. Kayak sengaja banget nungguin gitu lho, Bek..."

Gue dan patjar saat itu mendengarkan dengan lumayan khidmat, belom terpikir sama kita berdua bakal ngurus hal begituan dalam waktu dekat (Ya you know kan, Tuhan Maha Keren.. sekitar 6 bulan dari perbincangan itu, giliran gue yang nyusul ke KUA).

Ternyata, setelah berbagi cerita dengan Chacha, gue baru tau kalau biaya pengurusan surat nikah di KUA itu "beragam", rangenya dari 1 juta - 1,5 juta rupiah udah termasuk bayar penghulu nanti di saat akad nikah. Jadi rinciannya adalah, "selipan" pertama saat pengurusan berkas, dan "selipan" kedua (gue sih bisa menyebutnya dengan "uang terima kasih" atau "pemberian") saat akad nikah diberikan ke penghulu. Ya terserah deh pembagiaannya gimana, yang jelas hampir semua orang yang ngurus KUA semua bilangnya pada begitu.

Gue ma Ajuno manggut-manggut aja, sambil sedikit mengutuk tentang habit yang terjadi bahkan di departemen yang mengatasnamakan Tuhan.

Diperjalanan pulang dari Bakoel Koffie gue sempet ngomong ke patjar, "Nanti kalau kita urus KUA aku mau kerjain ah, terusin aja ngoceh.", afirmasi aja dulu; kalau kesampean bener ke KUA ya alhamdulillah..

....


KUA Jakarta Timur.
Berbekal semua berkas dalam map biru, di siang yang super terik; pergilah gue ke KUA barengan ma patjar. Sebelum turun dari mobil, gue sih udah nyiapin amplop berisi beberapa lembar uang rupiah yang nantinya bakal gue kasih untuk "mempermudah" syarat pengurusan dokumen pernikahan.

Baru masuk ke gerbangnya, gue dihadapkan oleh gambar seperti ini.. (sayangnya lupa gue foto, tapi sama persis kok dengan gambar dari Mbah Google ini)
Sebelumnya sih gue emang sempet baca di timeline kalau biaya pengurusan surat nikah yang cuma 30.000, tapi gue baca komen orang kok pada mencibir sih. Yaaa, gue sih cuma mau mencoba membuktikan, bener gak sih kalau departemen Agama itu adalah departemen terkorup dengan berbagai uang pelicinnya. Oleh karena itu, disinilah kita...

Bebek dan Ajuno ke KUA....


Setelah ngurus berkas segala macem dan membayar biaya administrasi sebesar 30,000 , resmilah nama kami didaftarkan untuk selanjutnya diteruskan kepada penghulu bersangkutan. Setelah dilihat nama dan jadual, dapatlah penghulu kami bernama Bapak Ssss, sebut saja begitu. Perjalanan selanjutnya adalah kami harus menunggu untuk bisa bertemu langsung dengan bapak penghulu tersebut. Kata Chacha, disitu biasanya lama dan panjang, karena calon penganten akan diberikan wejangan pra nikah dan ga akan berhenti sebelom yaaa... you knowlah, lo keluarin amplop putih berisi lembaran rupiah itu.


...

Bapak Ssss: "Jadi... Mbak Fala dan Mas Herjuno ya... Sejak kapan kenal?"
Gue : *dalam hati* lah kepo..... *cerita seadanya*
Bapak Ssss: "Sama-sama dokter ya? Bagus ini.. Bisa melahirkan generasi penerus bangsa yang baik ini...."
Gue : *senyum*
Patjar: *manggut*
Bapak Ssss: "Mbak Fala dan Mas Herjuno.. Tau kan perasaan orang tua kalian apa melihat kalian akan segera menikah, sedih ya Mbak Fala dan Mas Herjuno... Karena; apalagi orang tua Mbak Fala; inginnya pasti mendapatkan jodoh yang baik, dan ya..... &%%^#%&^@*(&(@&*(@&(*&@"

15 menit berlalu mengenai ceramah tentang orang tua yang melepaskan anaknya ke jenjang pernikahan.
Gue : *kipas kipas* KUA gerah banget, gelak.
Patjar : *manggut-manggut* *senyum*

Bapak Ssss: "Mas Herjuno sudah bisa ijab kabul?"
Patjar : "Belom, Pak.."
Gue: *dalam hati* ya menurut ngana, kalau udah ya gue keplak palanya..
Bapak Ssss: "Yok latihan dulu yuk...." sembari mengeluarkan secarik kertas yang dicoret contoh nama dan mas kawin.
Gue: *bengong* Baru tau kalau ijab kabul ada latihannya dulu..
Patjar : "latian ijab kabul* dan.... salah. Menurut si bapak penghulu, katanya patjar kurang cepet.
Gue: *ngikik*
Patjar : *ulang ijab kabul*




Kelar latihan ijab kabul, kita diceramahin lagi masalah surga dan neraka, tentang kewajiban menafkahi, dan berbagai hal lainnya. Kalau gue sih mandangnya yang disampaikan benar, cuma karena suasana kantor KUA lagi panas banget jadi ya berasanya lamaaaa banget.

Bapak Ssss : "Rukun iman ada berapa?"
Gue: "Hah?" Bingung karena tiba-tiba ditodong rukun iman.
Patjar : "6 pak.."
Bapak Ssss: "Sebutkan coba..."
Patjar : *nyebutin*
Gue: *ngikik makin jadi*


Bapak Ssss  *&#6786*(^#&*^##*&^#&*^@&*@^&*^@*(^@
Gue : ...
Patjar : ....

Bapak Ssss : *(&#*(&#*&@(*@)&@*(^#&*^@%%^$@
Gue : *bengong*

Bapak Ssss : Baik kalau gitu....
Patjar : *sigap* "Oke deh pak, kebetulan kami masih ada keperluan lain dari sini.. Jadi nanti teknis akad nikahnya gimana ya pak?
Bapak Ssss : *jelasin*
Gue : *lega*

Patjar : "Baik bapak, terima kasih banyak atas semuanya. Mohon dibantu dan dikawal kedepannya semoga lancar."
Bapak Ssss : "Aamiin.."
Gue: "AAMIINNN..."



*pulang*

Demikianlah cerita Bebek dan KUA, dan yap, kami tidak mengeluarkan biaya apa-apa lagi selain 30,000 rupiah. Dan anggapan bahwa Departemen Agama adalah departemen paling korup dengan ini resmi saya CABUT.
Alhamdulillah.
:)

Fakta dan Mitos tentang KOAS

Hello habidubidubidubiduuuu~
Setelah hampir 2 tahun jalanin kepaniteraan (KOAS), akhirnya kelarlah tahap pendidikan kedokteran yang (konon katanya) seru ini. Beberapa hal banyak gue laluin di rentang tahun yang relatif sebentar. Dari mulai putus, jadian lagi, putus lagi, jadian lagi, dilamar hingga tunangan semua gue jalanin di fase koas ini. Tapi gue ga mau cerita tentang pengalaman itu, karena isi blog ini udah penuh ma hal gituan.

Karena fase koas gue udah selesai, jadi gue lebih kepengen cerita tentang "fakta" dan "mitos" tentang koas yang banyak beredar atau sering ditanyakan pada saya. Ya, tapi sebelumnya, mau informed consent dari awal dulu sih kalau ini kan hanya sebatas pengalaman gue, yang mungkin aja berbeda dari yang anak koas lain alami. Hayuklah, cuss....


"Koas itu Kumpulan Orang Selalu Salah. Artinya apapun yang mereka lakukan hampir ga ada yang bener dan dimarah-marahin terus."
MITOS
Kenyataan lapangannya (atau mungkin seiring modernnya kedokteran) anak koas tidak selalu salah dan dimarahi kok. Kalau salah ya wajar dong dimarahin, tapi saat mereka melakukan hal yang wajar atau mungkin benar ya tetap mendapat aspirasi selayaknya. Sejauh saya koas, ya pastilah tidak terhitung berapa kali saya dimarahin konsulen, dimarahin bidan sampai dimarahin cleaning service karena lupa buang bungkus McDonalds sehabis makan malam (wajar kan?). Tapi sih, akhirnya gue mengambil benang merah, kalau konsulen yang cukup "senior" memang cenderung menerapkan gaya mengajar "marah marah tegas", jadi yaaa... terima ajalah. :))


"Koas itu hampir gak bisa tidur. Cape banget. Pikiran pening. Stress."
FAKTA
Kalau dari segi usia, anak koas kan cenderung berada pada fase labil, meletup-letup dan emosional. Mungkin sedikit banyak mempengaruhi tingkat stress. Ketemu pasien gawat sedikit, keringet dingin ga tau mau ngapain. Lagi jaga tiba-tiba ada pasien masuk jatohnya malah sedikit labil karena ngantuk banget, belom abis jaga besoknya ada jadual presentasi referat. Ya kerjaan emang numpuk sih. Apalagi kalau lo ada di rumah sakit rujukan (mungkin kalau di Jakarta setara dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat). beuh, selamat mutung deh kalau lagi jaga UGD di stase bedah, pasiennya banyak banget. Waktu gue obgyn aja bisa ada operasi tengah malem, shubuh-shubuh, jam 2 pagi suruh anter pasien ke RSCM, jam 4 pagi ada pasien baru dateng. Tapi terus gimana? ya nikmatin aja kan. Waktu istirahat akan ada kok. Karena kan, seganas-ganasnya rumah sakit pendidikan tetap saja pekerja disitu kan manusia yang bisa merasakan lelah.

"Koas itu statusnya lebih rendah dari keset kalau di rumah sakit. Diinjek-injek terus."
MITOS
MITOS LUAR BIASA MITOS. Anak koas dihormati kok, oleh siapapun yang ada disitu, layaknya anak koas menghormati semua staff rumah sakit dan pasien. Selama gue koas, gue selalu mendapat perlakuan baik dan terhormat dari lingkungan gue. Ada sih emang disuruh bersihin darah, pup, muntah di beberapa bagian, tapi ada juga bagian yang melarang keras anak koasnya melakukan hal tsb. Intinya sih semua dibawa seneng dan santai aja. Semua akan lewat kok. Tapi saya tekankan sih, bahwa anak koas tidak akan diperlakukan tidak hormat. :) Karena bagaimanapun, anak koas mengenakan jas putih yang memang harus selalu dijaga kehormatannya.


"Koas itu risiko cinloknya gede."
FAKTA
Ini sih jelas fakta banget, terlepas dari gue adalah korban cinta lokasi rumah sakit dengan judul hubungan anak koas dan dokter internship, tapi risiko untuk cinlok pas koas emang gede banget sih apalagi kalau kedapatan jaga malam. Hanya beberapa rumah sakit yang menyediakan ruangan koas dimana perempuan dan laki-laki terpisah, banyaknya sih satu ruangan. Jadi kalau jaga malem semua numpuk disitu. Gak cewe, gak cowo, tidur gelepar aja. Gimana gak bikin insecure pacar-pacar yang bukan anak kedokteran tuh kaya gitu? hehehe

"Koas lebih susah daripada kuliah."
MITOS
Justru koas lebih gampang daripada kuliah, cuma lebih cape. Kita turun langsung ke lapangan. belajar nyuntik, belajar nulis resep, belajar segala macem dan diterangin di tempat mengenai sakitnya si pasien. Otak akan cenderung lebih mudah memahami saat objek yang dipelajari terpampang depan mata.


"Koas isinya nulis status sampe bolpen abis, tangan pegel."
FAKTA
Untuk anak koas, status pasien itu harus ditulis secara lengkap, minimal sekitar 5-6 lembar halaman deh untuk satu pasiennya. Kaliin aja sama pasien yang lo pegang. Sedia bolpen Standard yg banyak apalagi untuk stase anak dan interna, karena bolpen itu kemungkinannya hanya 2.. 1) Habis dipakai saat itu juga 2) Hilang diambil teman lain.


"Stase interna itu stase paling capek."
MITOS
Faktanya stase paling capek adalah stase obgyn. Enough said. Karena yang lo hadapin banyak banget. Dari mulai ibu hamil, pasien non-hamil (kista dll) hingga bidan. Doh. Pas udah lewat obgyn rasanya tuh kayak lepas bustier, softlens dan high heels abis pesta. LEGA.

"Koas kalau kuliahnya di swasta sering dipersulit."
MITOS
Tidak ada diskriminasi kok mau lo lulusan swasta atau negeri di rumah sakit. Mau lo lulusan kampus mana juga semua ya sama. Yang bedain ya isi kepala lo, bukan kampus lo.


"Kalau lulusan kampus swasta, koasnya lebih lama."
FAKTA
Untuk beberapa kampus swasta, apalagi yang sudah berdiri lama dan tidak mempunyai rumah sakit pendidikan sendiri, masa koas memang akan lebih lama karena biasanya mereka ada fase "mengantri" untuk masuk rumah sakit. Kebetulan gue lulusan swasta, koas harusnya dijalanin selama 1 tahun 6 bulan, tapi gue jalanin sekitar 1 tahun 10 bulan. Hampir 2 tahun. Lumayan sih waktunya. :)

"Koas harus siapin duit banyak untuk traktir sana sini."
FAKTA
Tapi balik lagi, pada akhirnya itu kan untuk ucapan terima kasih dan wujud merayakan kelulusan. Apa susahnya sih beliin gorengan untuk staf rumah sakit dan dimakan barengan buat kita? Kalau kitaudah dapetin hati orang-orang rumah sakit, maka semua jalannya akan dipermudah sih. Karena kan pada dasarnya manusia suka diperlukakan baik. Maka gitu juga sebagai anak koas, perlakukan baik saja orang-orang disekeliling. Bersyukur dan merayakan fase hidup.


"Koas itu masa yang tidak terlupakan"
FAKTA
Koas itu adalah masa yang indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang. :p





Ayo ayo yang baru mulai koas,
semangat. :3



....karena masih ada internship menunggu.

Bebek Mau Manten

Jadi, tepat tanggal 9 Februari kemarin (oke udah lama, karena gue baru sempet nulis post ini. Bye), akhirnya gue ma sipatjar resmi tunangan. Setelah rebek milih cincin untuk dipakai di jari manis tangan kiri dan kebaya yang hingga H-1 minggu belom gue pikirin hingga akhirnya dibeliin Patjar di Jogja pas dia berangkat liburan, sampailah kita ke hari tersebut.

Ya sebenernya sih acaranya sangat bersifat kekeluargaan, yang dateng juga cuma keluarga besar dan sahabat-sahabat terdekat aja. Berjalan dengan hikmat tanpa cengegesan. :)) Malah cenderung sangat haru ketika gue melihat Mbah Kai (eyang kakung patjar) menangis, karena melihat cucunya menikah adalah salah satu impian beliau. Selebihnya sih berjalan wajar dan seru. Walau saat pemasangan cincin, ternyata ukuran cincin Patjar salah yang menyebabkan cincinnya susah masuk. Zzzzz.

Ini sedikit fotonya,

He kissed my forehead in front of our big family. :))) That was sweet moment. Tapi kok kayaknya mukanya dia kayak nahan ketawa ya? :))


Our ring. :)) Ribet bener nyari modelnya. Dasar emang keras kepala dua-duanya, akhirnya setelah memilih model sana sini, jatuhlah model cincin kami adalah.... tanpa model. :))) Iya, cuma plat tipis tanpa model sedikitpun. Hanya ukiran nama kami di dalamnya.


Siapa yang nanya adeknya Patjar? nih.


Ntahlah, kami memang hobi sekali melakukan hal aneh. Bahkan didepan para sesepuh keluarga kami. *melihat kebelakang ada Bapak Pudji Hartomo dan isteri*


...dan akhirnya foto keluarga besar!!!! Ini sih cuma... rrrrgghh.. 1/4 dari total keluarga. hehehehe. Btw, Momi patjar keren ya (yg tepat duduk samping patjar) rambutnya merah anti-mainstream. :')) She is a cool mommy.



Nah, setelah prosesi tersebut, masuklah kami dalam fase.. JENG JENG JENG "Menyiapkan Hari H" dari mulai booking gedung, pilah pilih vendor, test ketring, ribet penentuan adat, pembeliah bahan, bikin undangan, bikin souvenir, beli seserahan semua kami urus sendiri. Keluarga kami sepakat untuk tidak menggunakan jasa Wedding Planner karena gue adalah anak terakhir di keluarga besar, cucu terakhir pula, makanya kayaknya keluarga gue pengen pol-polan aja gitu ngurus semuanya. Dari pihak keluarga calon, doi anak pertama yang nikah, cucu pertama juga yang nikah. Yaudah nemu. Akhirnya semua repotnya kita kerjain sendiri.

Ribut? Oh jelas. Dari mulai masalah sepele sampe yang lumayan gede seperti menentukan pakaian adat. Tapi ya dinikmatin aja ribetnya, migrennya, capenya. Ngurus gini gituan itu cape banget, makanya orang dibikin taubat supaya kedepannya ga kawin lagi. :p

ampe post ini turun, urusan udah kelar sekitar 70% deh, tinggal finishing touch sama benah-benahin diri dan benahin calon tempat tinggal kami nanti. Ribet ya ternyata. Kirain mah pindah tinggal pindah, ternyata urus perabotan, debat warna wallpaper sampe naekin daya listrik itu cukup membakar kalori karena emosi dan cape. :))

Cuma Inshaa Allah semua kebayar kok, tapi ya kalau ada yang bilang "Kalau cinta pasti ikhlas dan ga cape..." mending suruh ketemu gue, kita jajan teh botol bareng supaya botolnya bisa gue pake buat sambit betisnya dia. Cape tetep aja cape, tapi yang jelas, semua lelahnya itu bermakna dan beralasan. Karena bagaimanapun gue dan Juno sedang menyiapkan hari besar kami.

Doain aja semoga lancar. Hahahhahaha.


8 April 2013,
Fala. Belom pake krim malam.
 
Copyright 2012 all mine . .. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates